Saturday, October 7, 2017

Friday, September 15, 2017

Download Katalog Online "Nafas Dalam" 2017

http://bit.ly/2h8vaHT
setara dengan 4.384.000 perangko, setara juga dengan 2.700 eksemplar koran. Jika kita bisa menghemat 1 ton kertas, maka kita juga menyelamatkan 12 batang pohon, 400 liter minyak, 4.100 Kwh listrik dan 31.780 liter air. Aktifitas administrasi tanpa kertas (Paperless) bukan berarti menghilangkan penggunaan kertas, tapi mengurangi secara signifikan dan menumbuhkan kesadaran akan lingkungan.

Wednesday, September 13, 2017

Tuesday, September 12, 2017

Tuesday, September 5, 2017

Pameran Seni Rupa & Fotografi "Nafas Dalam"
Nafas aktifitas vital dalam memenuhi sebuah syarat hidup, dalam bisa dimaknai sebuah kedalaman dari aktifitas itu sendiri.
Nafas Dalam memberikan sebuah makna bahwasanya setiap hidup  kadang di butuhkan tidak hanya sekedar bernafas saja tapi lebih  bagaimana tiap nafas dapat memberikan catatan catatan  wujud (karya) yang bersifat positif.

Wednesday, August 9, 2017

Saturday, July 1, 2017

Kejuaraan Sepatu Roda se Kabupaten Ponorogo

1. INFORMASI UMUM KEJUARAAN SEPATURODA ROLLER CROSS (RX)
1.1 Kategori Permainan
Kategori Permainan Roller Cross adalah RX-Series
1.2 Kelompok Umur
1.2.1 Untuk tahun 2017, pembagian Kelompok Umur adalah:
          - Kids : <=7 tahun (kelas C pa dan pi)
          - Junior : 8-11 tahun (kelas B pa dan pi)
          - Youth : 12-16 tahun (kelas A pa dan pi)
              1.2.2 Kelompok Umur diterapkan untuk kategori RX-Series.
1.3 Arena dan Perlengkapan Resmi
1.3.1 RX-Series harus dimainkan di area yang rata dan terbuat dari lantai,
          beton, aspal, maupun dataran lainnya.
1.3.2 Pembatas garis menggunakan police line dan cone.
1.3.3 Halang rintang menggunakan box karton dan ban.
1.3.4 Tingkat kesulitan halang rintang menyesuaikan kelompok umur.
1.4 Peraturan Pendaftaran
Peserta harus memakai nomor lomba yang disediakan oleh panitia.
Penempatan posisi nomor lomba akan ditentukan oleh Ketua Lomba
disesuaikan dengan denah area kompetisi.
1.4.1 Nomor lomba harus tertulis logo Panitia.
1.4.2 Huruf pertama mewakili jenis kelamin peserta, “L” untuk laki-laki dan
“P” untuk perempuan.
1.5 Peraturan Keselamatan
1.5.1 Seluruh peserta diwajibkan untuk menggunakan peralatan pengaman,
seperti helm, pelindung lutut, dan sarung tangan.

1.5.2 Setiap peserta bertanggung jawab atas segala resiko yang terjadi
selama kompetisi berlangsung.

1.5.3 Setiap perwakilan akan menandatangani surat pernyataan
pembebasan klaim atas resiko permainan ini. 

Panitia 

Friday, May 12, 2017

Tuesday, May 9, 2017

Wisata Budaya Bedingin Bungah #2 lanjutan
bedingin bungah
Sambungan dari Wisata Budaya Bedingin Bungah#2 Peserta tour desa sepeda tua sudah berada di gunung gemplah, berbaur dengan pengunjung dan wisatawan, sayup sayup terdengar bunyi musik pengiring gajah-gajahan  di kejauhan makin lama makin jelas menuju bukit gemplah.

Panggung setinggi 1 meter kreatifitas orang-orang Dusun Kambangrejo Bedingin dihiasi  ornamen serba bambu yang banyak terdapat di sekitar menghiasi bukit gemplah, diawali tarian anak2 muda dengan musik gajah-gajahan tampil diatas panggung tebuka.


Menyusul gajah yang di jalankan oleh 2 orang ini menaiki panggung, menari mengikuti irama musik, alat musik gajah - gajahan ini terdiri dari terbangan, beduk,  selompret, kendang, apa itu seni gajah-gajahan klik di sini.





Tarian Gajah-gajahan di kendalikan oleh seorang anak perempuan berdandan layaknya penari jatilan  di reyog ponorogo, Diawali oleh  pak Lurah  bergantian dengan para tamu wisatawan naik di pundak gajah-gajahan bergantian, mengikuti tarian dan irama musik, satu moment yang langka bagi para wisatawan.

Sore hari hujan rintik turun membasahi area sekitar acara Bedingin Bungah, udara terasa sejuk aroma tanah tersiram air hujan menambah semangat para pemain dan pengunjung, sejak siang group reyog Desa Bedingin sudah bersiap berpartisipasi memeriahkan Bedingin Bungah.



Iring-iringan Reyog yang di koordinir pak Carik Bedingin ini berparade mengelilingin jalan desa menuju pusat acara di Bukit Gemplah di beberapa tempat iring-iringan reyog berhenti untuk menghibur masyarakat yang banyak berkumpul, beberapa saat kemudian melanjutkan perjalanannya.

wisatawan

panggung bedingin bungah#2


Di Bukit Gemplah ratusan pengunjung sudah tidak sabar menunggu, wisatawan dari dalam dan luar negeri ikut berbaur dengan para penari reyog, terlihat suasana akrab sesuai dengan selogan Desa Bedingin "sing teko bedingin dadi dulur" (yang datang di Bedingin Menjadi Saudara).







Puncak acara Bedingin Bungah adalah "Kenduri Besar" sebagai wujud sukur kepada Tuhan YME atas panen selama ini, masing-masing kepala keluarga membuat dan mengumpulan hidangan "kenduri" di musholla, dari Desa di sediakan gunungan berisi buah-buahan dan sayur-sayuran hasil dari ladang di Desa Bedingin, selanjutnya dikirab dengan penerangan obor dan ublik di sertai lantunan sholawat dan pembacaan kitab Ambyo yang di iringin oleh 2 (dua) alat musik "terbangan" besar, beduk.




Apa itu kitab Ambyo? dahulu sebagai media untuk penyebaran Islam di sekitar keraton Jogja. Bertuliskan huruf jawa kuno dan arab, ber kisah perjalanan para nabi yang disusun oleh para pujangga keraton. Lagu-lagu dalam kitab ambyo  cukup mudah dipahami setiap orang.  
Cahaya Ublik menyambut iring-iringan "Kenduri Besar" saat memasuki jalan perkampungan menuju bukit gemplah, kilatan lampu flash dari kamera handphone dan kamera slr silih berganti seiring berlalunya iring-iringan Kenduri Besar berlalu, tanpa di komando pengunjung mengikuti dibelakang rombongan menuju bukit gemplah.



Tepat di depan panggung sudah di siapkan terpal sebagai alas untuk makan bersama dan sekaligus acara utama "kenduri besar", tamu, wisatawan dan peserta duduk bersama menikmati prosesi kenduri, diawali dengan sambutan dari kepala desa dilanjutkan bacaan kitab ambyo dan doa bersama atas nikmat yang diberikan oleh tuhan YME dan doa untuk saudara kita yang mengalami bencana di banaran dan sekitarnya, Di tutup dengan acara makan bersama seluruh yang hadir tanpa terkecuali.
Berikut beberapa penampilan seni dalam acara Bedingin Bungah, dari dalam dan luar Desa Bedingin.

- Karawitan anak-anak Bedingin mengawali acara 
- Karawitan dewasa yang tidak kalah menarik, 
- Pembacaan kitab Ambyo yang di iringi oleh tarian 4 orang wanita dari ISI Solo 
- Tari Gendhing Sriwijaya Mahasiswa Mancanegara ISI Solo 
- Tari dari pemeran film Bima (film yg shoting di bedingin) 
- Tarian dari Komunitas Kalimantan
- Jatil Laki-laki "sepuh" dan pembarong sepuh  desa Bedingin 
- Wayang kulit yang juga dari Bedingin sampai dini hari.

Sampai Jumpa di Bedingin Bungah#3 mendatang

Foto&liputan : Bekuinstitute
Daniel Puji R
Purwanto PW
Imam Mujiono
Shandy A A Miraza

Wednesday, May 3, 2017

Wisata Budaya Bedingin Bungah #2
kenduri besar desa bedingin

Wisata berbasis budaya  adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya.

Ada 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisatawan antara lain bahasa, masyarakat, kerajinan tangan, makanan dan kebiasaan makan, musik dan kesenian, sejarah suatu tempat, cara kerja dan teknologi, agama, bentuk dan karakteristik arsitektur, tata cara berpakaian, sistim pendidikan dan aktifitas diwaktu senggang.


Objek-objek tersebut tidak jarang dikemas khusus bagi penyajian untuk wisatawan, dengan maksud agar menjadi lebih menarik. 


Semua itu coba di terapkan di acara Bedingin Bungah untuk ke dua kalinya  diadakan, Sebagai wujud syukur masyarakat dan Pemerintah Desa Bedingin, atas melimpahnya hasil bumi yang sudah dilakukan turun temurun oleh masing masing kepala keluarga, dalam kegiatan ini diadakan secara serempak bertajuk  "Bedingin Bungah #2" kenduri besar sebagai wujud sukur kepada sang maha pencipta dan sekaligus pencanangan wisata puncak senja di bukit gemplah.
 
start tour desa sepeda tua bukit gemplah


melewati industri genting & bata


Sejak pukul 07:00 wib rombongang sepeda kuno dari masyarakat Bedingin sudah berkumpul di bukit gemplah, sebagai salah satu rentetan acara Bedingin Bungah#2,  disamping ber olah raga sepeda pagi mengelilingi desa sekalian sosialisasi acara yang dilakukan sejak pagi sampai malam hari. 
budaya merokok menggunakan tembakau (ngelinting)
Sepeda kuno ini juga sebagai pengenalan pada masyarakat dan generasi muda bahwa kegiatan budaya tidak hanya hiburan masyarakat Bedingin saja, tetapi sekaligus menarik wisatawan nasional maupun internasional  yang berpengaruh pada kegiatan perekonomian masyarakat desa Bedingin dan sekitarnya
foto bersama di rumah budaya bedingin
Tampak dalam rombongan tersebut wisatawan dalam dan luar negeri ikut serta berpartisipasi  "tour desa sepeda kuno", beberpa tempat mereka kunjungi antara lain Rumah Budaya, Industri Genting dan bata, Wisata Beji Sirah Keteng, Museum Desa Bedingin, Arca Sirah Keteng, Hutan Bambu dan ber akhir di Bukit Gemplah sebagai pusat kegiatan Bedingin Bungah #2.
hutan bambu desa bedingin
pasar kuliner tradisional desa bedingin
es cao kuliner khas desa bedingin
tepo sayur kuliner khas desa bedingin
memakai alat dan bahan masak tradisional
ibu-ibu PKK Bedingin memasak sayur lompong
minum langsung dari kendi

peserta, aparat desa, masyarakat dan wisatawan makan bersama

Seluruh peserta yang hadir dipersilahkan menikmati sajian khas "sayur lompong" proses memasak langsung dilokasi bukit gemplah di lakukan oleh ibu-ibu PKK yang di koordinir langsung oleh ibu lurah. 

Kegiatan ini juga di rancang sebagai salah satu poin untuk menarik wisatawan yang berkunjung dan menginap di desa Bedingin.

Wisatawan bisa terlibat langsung, mencoba dan sekaligus belajar proses memasak sajian "sayur lompong"  mengunakan alat-alat tradional yang biasa di gunakan oleh ibu-ibu di desa Bedingin.
iring iringan gajah-gajahan

gajah-gajahan melewati hutan desa


Menyambut peserta tour desa sepeda kuno group gajah-gajahan desa bedingin yang terdiri dari anak-anak, remaja dan orang tua berjalan menyusuri persawahan dan kampung-kampung di sekitar Dusun Kambangrejo menuju Bukit Gemplah, Wisatawan dan Fotografer berhamburan melihat, ikut dalam rombongan dan mencari moment foto dari berbagai sudut, satu moment yang sudah sangat langka di era moderen ini, rombongan melewati hamparan sawah yang menghijau di sinari oleh cahaya matahari pagi.... (bersambung)  

Foto&liputan : Bekuinstitute
Daniel Puji R
Purwanto PW
Imam Mujiono
Shandy A A Miraza