Reyog Obyok di Malam Hari

by - Thursday, May 08, 2014

Selasa 29 April 2014 15:00 wib Rombongan Fotografer dari Bali yg di komandani oleh om Johannes Karundeng (sapaan akrab kami) datang ke ponorogo, satu kebanggaan bisa menemani beliau dan rombongan dalam rangka hunting reyog yang di seleggarakan khusus dan ditempat yg unik, kenapa kami sebut unik biasanya pagelaran reyog selalu di tanah lapang atau panggung2, kali ini lokasinya di pinggiran sungai yg tepatnya di Dam/bendungan Cokromenggalan Ponorogo. mereka mengabadikan sejak para pemain reyog berganti pakaian sampai pentas berlangsung, tepat setelah Magrib pagelaran di mulai dengan penerangan seadanya plus api obor yg di pegang beberapa anak muda di sekelilingnya,  seperti biasa sebelum pagelaran dimulai ada prosesi kecil dan doa bersama untuk keselamatan acara tersebut yg dipimpin oleh tetua group reyog tersebut.







Acara yg tidak ada publikasi tetapi banyak sekali mendatangkan penonton baik dari sekitar daerah Cokromenggalan atau orang yg melewati dam tersebut, kontan membuat macetnya jalan kecil sebagai transportasi yg menghubungan kelurahan cokromenggalan dan kelurahan kertosari kec babadan
baru kali ini penulis meliput acara pagelaran reyog obyok dengan tertib, yang biasanya penonton susah diatur kali ini penonton duduk dan berdiri tertib melihat dari kejauhan pagelaran reyog obyok tersebut, sungguh pemandangan yg sangat elok bagi kami para fotografer dan penonton untuk bisa menikmati jalanya pertunjukan tersebut.








Tak terasa waktu menunjukkan pukul 20:35 tibalah akhir acara yg di tutup dengan salam hormat dari seluruh anggota reyog, di susul dengan foto bersama seluruh pemain dan fotografer binaan Om Johannes Karundeng dari SMKN 1 Mas - Ubud Bali yang saya kutip dari tulisan beliau dalam rangka 
"Tirtayatra berasal dari bahasa Sansekerta, Tirta dan Yatra. Tirta artinya air atau kesucian. Sedangkan Yatra berarti perjalanan suci.

Perjalanan ke Jawa Timur dan Tengah sekaligus merupakan Tirtayatra bagi adik-adik fotografer dari SMKN 1 Mas - Ubud yang beragama Hindu. Perjalanan ke tempat-tempat ibadah dan candi suci Hindu mulai dari Pura Luhur Poten di Bromo, Candi Penataran dan Candi Simping (makam Raden Wijaya) di Blitar, Candi Ceto di Karanganyar dan berakhir di Candi Prambanan di Yogyakarta merupakan pengalaman pertama bagi mereka.

Bagi saya banyak hal-hal yang saya belajar; mengenai budaya sejarah, alam, spiritual, pertemanan dan tentunya fotografi " 



Satu kebanggaan bagi penulis bisa berkenalan dengan sosok Om Johannes Karundeng, yg mempunyai keinginan berbagi kepada adik2 SMK tentang budaya alam dan fotografi dan sangat memotifasi penulis. Semoga bermunculan Fotografer2 profesional seperti beliau yang mempunyai jiwa sosial yg tinggi rela berbagi kepada penerus bangsa indonesia.
tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak dan temen2 fotografi ponorogo tanpa terkecuali, dengan fotografi kita perkenalkan ponorogo, budaya, alam, kuliner dan isinya #the spirit of world....................

Salam fotografi dan budaya #reyog #ponorogo #budaya #jawatimur #indonesia

Shandy A A Miraza
saya@ratjoen.in

You May Also Like

2 comments