Thursday, July 9, 2015

Pondok Modern Gontor Ponorogo


Ini kali pertama saya masuk ke dalam masjid utama pondok pesantren Gontor, meski tempat tinggal dan kantor saya cuma 5 km-an dari pondok modern Gontor,
tepatnya Jumat kemarin bisa merasakan sholat didalam masjidnya yang besar yang bisa memuat ratusan atau ribuan jamaah ini, awalnya merasa canggung antara takut dan penasaran. Takut kalau masjid dan pondok tertutup untuk kalayak umum karena masyarakat nyaris tak terlihat di masjid jumatan kemarin, namun ternyata tidak seperti dugaan saya selama ini. Penasaran karena lahir dan besar saya di Ponorogo dan sangat berdekatan, bahkan seringkali lewat ketika mencari jalan pintas ke daerah Mlarak. Selama ini banyak cerita tentang pondok terbesar di Indonesia ini, yang seakan menutup diri dari lingkungan luar, atau mengisolasi diri dari luar pagar.

Sejatinya bagaimana??


Jumat kemarin bersama teman sekerja saya Jumatan di masjid Gontor, berawal karena ketinggalan sholat jumat di masjid kantor yang jam 11:35 sudah dimulai kutbah sementara pekerjaan kami baru kelar jam 11:45-an. Langsung kami meluncur memakai mobil ke arah Gontor, konon di masjid ini awal jumatan-nya lebih lambat dibanding masjid-masjid lain di Ponorogo. Benar adanya sesampai di jalan masuk Pondok Gontor masjid lingkungan (luar pondok) sudah buyaran yang berarti jumatan sudah selesai. Kekwatiran gagal ikut jumatan muncul lagi, namun saya terus mengarah masuk ke dalam komplek pondok dan memarkir mobil di sebelah timur. 

Tampak ratusan santri pondok yang berpakain rapi dengan baju koko komplit dengan tanda pengenal, sedang bawahannya memakai sarung yang di kasih ikat pingang sambil tangannya menenteng buku tulis dan tas kecil berwarna dan transparan.

"Maaf boleh numpang sholat jumat disini?" tanya saya pada santri yang sedang berjalan menuju tangga depan masjid, dia tidak menjawab hanya mengangguk sambil senyum dengan sopannya.

"Maaf tempat wudlunya mana mas?" tanya saya lagi, namun lagi-lagi dia tidak mau menjawab, namun dengan sopannya dia menunduk sambil memberikan arah dengan tangannya supaya kami menuju belakang masjid.

Begitu memasuki masjid nampak beberapa ustad menunjuk sana-sini mirip penerima tamu di undangan temanten, mereka mengatur para santri yang baru masuk masjid untuk menempati atau memenuhi shof depan. 

Mereka duduk diam dan teratur, begitu ada santri baru memasuki masjid dia langsung menempatkan diri dengan memenuhi bagian depan terlebih dahulu.

Ada hal unik mereka masuk masjid selalu membawa tas tenteng kecil berwarna-warni namun ukuran dan modelnya seragam, dalam tas tersebut ada tulisan nama, kelas, dan daerah asal. Sambil berdiri mereka menjatuhakan tas kecil tersebut.

"Blaaak......" tiap tas tersebut dijatuhakan dan pertanda ada santri yang baru masuk masjid, dan ketika saya amati didalamnya berisi alas kaki, sambil menahan tawa saya mebayangkan kalau tidak dengan cara begini mereka pasti berebut alas kaki setelah sholat selesai, bila santri diatas 5 ribu bisa dibayangkan ribetnya kalau tertukar sandalnya.

Kira-kira jam setengah satu para santri sudah memenuhi masjid dan Kyai dan petugas khutbah masuk melewati pintu didekat imaman dan sholat jumatpun dimulai.


Saya baru ingat cerita teman saya sekantor yang rumahnya bersebelahan desa dengan Gontor ini, kalau didalam area pondok ini wajib berbahasa Arab.

Dari raut wajahnya dia bukan dari Jawa, namun kesopanan dan tindak tanduknya sudah menjadi keseharian terutama ketika menhadapi ustdad, kyai, ataupun tamu yang berkunjung.

Ketika saya perhatikan lebih seksama pada papan nama yang selalu menempel pada pakaianya, dia berasal dari Aceh, sedang 2 temannya berasal dari Maluku dan Sulawesi. Benar-benar Gontor mirip taman mini-nya Indonesia tentang asal santri yang menimba ilmu disini.

Kebetulan teman saya berasal dari Aceh, dia bisa bercakap-cakap, entah apa yang mereka bicarakan mereka begitu akrab meski baru beberapa menit bertemu, dan entah bahasa Arab atau Aceh yang mereka pakai saya blank.

Tapi ketika saya bertanya apa yang barusan dicakapkan, teman saya menceritakan dia berkampung sebelahan, dan ketika ditanya apakah ramadhan tidak pulang, dia mnejawab untuk kelasnya belum libur karena dia baru di sini sekitar setahunan, dan boleh libur Ramadhan katanya ketika masuk tahun ke 3. Namun begitu katanya masih ribuan yang tinggal disini karena masih tergolong santri baru.

Bisa menjadi bagian dari Gontor adalah sesuatu yang luar biasa, banyak yang mengidam-idamkan remaja sebayanya untuk bisa masuk Gontor, namun rekrutmen terbatas dan seleksi yang ketat.

Beda lagi tentang cerita orang Ponorogo tentang Gontor, orang cenderung takut kalau masuk pesantren ini mahal karena di pesantren ini sudah sekalian asrama dan makannya. Entah mahal tidaknya saya juga tidak tahu, mungkin saja kurangnya informasi sehingga rasa takut dan was was itu muncul. Maklum saja di Ponorogo ada ratusan jenis pesantren, namun rata-rata masih pesantren tradisional dimana nyantri tidak sekalian makannya, hanya disediakan tempat tidur ala kadarnya, bahkan gratis. (ceritanya pada tulisan berikutnya).





Kalau boleh saya katakan pondok pesantren ini merupakan pesantren tradisional yang sudah modern, artinya pondok pesantren tradisional yang sudah dikelola secara modern, baik sistem pengajaran, sistem administrasi, maupun sistem jaringannya. Karena jarang sekali pondok pesantren yang mempunyai cabang dimana-mana seperti Gontor ini, misal ada yang di daerah Madusari, daerah Siman, bahkan yang di Ngawi khusus santriwati, di Magelang, di Kediri, malah juga buka cabang di Poso Sulawesi.




Meski dikategorikan pondok modern, pondok ini masih menggunakan tradisi orang nadliyin, dimana terlihat pada jumatan kemari dilakukan 2 adzan sebelum dibacakan khutbah seperti masjid masjid NU lainnya mungkin ini sudah menjadi kebiasaan sedari awal berdirinya pondok. Dan yang membedakan hanyalah isi khutbah full bahasa Arab, yang membuat saya tertegun dan bengong karena sama sekali tidak bisa. Tahu-tahu yang khutbah mengucapkan salam dan terdengan suara qomat pertanda khutbah selesai.


Di sebelah timur masjid (depan) kanan bida ditemukan aula besar yang berkapasitas bisa manampung ratusan santri. Diatas pintu masuk terdapat foto trimurti (pendiri pondok).

Sedang didalamnya ada panggung dan baliho besar yang biasa buat acara peringatan atau kegitan.


Timurnya lagi ada rumah pusaka, yang berbentuk pendopo (rumah bucu), rumah ini usianya sama dengan usia pondok, rumah ini adalah kediaman kyai pendiri pondok yang sekarang lebih difungsikan sebagai musium.


Terus ke timur ada masjid lama dan pondok lama (awal berdiri pondok), dan dibelakanganya ada 2 petak makam para pendiri serta makam keluarga.


Dari pesantren ini konon telah lahir para pejabat-pejabat, para pakar politik, para saudagar yang terkenal di negeri ini. Kesederhanaan dan kedisiplinan di pondok ini membuat mereka terlatih tahan banting. Konon aturan tidak boleh makan diluar atau keluar selain hari libur sangat dipatuhi, dulu bila ada santri gundul bisa disimpulkan karena hukuman atas kesalahannya. Hari libur pondok ini adalah hari Jumat setelah sholat jumat, mereka pergi ke kota untuk berbelanja aneka kebutuhan, mereka pergi naik ojek atau berombongan dengan mencarter kendaraan masyarakat sekitar, dan hal ini menjadi pemasukan tersendiri bagi para tukang ojek atau mobil carteran. Dan setiap hari jumat bisa dijumpai ratusan sampai ribuan para santri baik dari Gontor atau pesantren lainnya yang berjalan berarak-arakan di kota Ponorogo. Dan bila bukan bulan Ramadhan mereka memadati rumah-rumah makan yang menjadi langganan pendahulunya, ciri-ciri warung tersebut adalah warung yang ada daftar menu sekaligus daftar harga, dan yeng khas mereka mendatangi rumah makan yang 'maaf' perempuannya berjibab dan bernuansa muslim.

Penulis & Foto Nanang Diyanto
Previous Post
Next Post

post written by: