Festival Bantarangin Mempertahankan Api Semangat Leluhur

Festival Bantarangin I
Selamat datang di Festival Bantarangin begitu bunyi spanduk yang terpasang di jalan masuk monumen bantarangin yang terletak di kecamatan Sumoroto Kabupaten Ponorogo.
Festival, dari bahasa Latin berasal dari kata dasar "festa" atau pesta dalam bahasa Indonesia. Festival biasanya berarti "pesta besar" atau sebuah acara meriah yang diadakan dalam rangka memperingati sesuatu. Atau juga bisa diartikan dengan hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting atau bersejarah, atau pesta rakyat
Sebuah perayaan, Wujud Syukur Masyarakat Desa Somoroto yang di kemas dalam balutan Budaya. Gemuruh perubahan yang selalu terjadi pun, turut berpengaruh terhadap ‘warna’ dan ‘wajah’ baru kebudayaan. Hari ini, adalah masa depan dari kemarin. Apa yang tampak pada kebudayaan saat ini merupakan akumulasi dari apa yang digagas, diinterpretasi, diantisipasi, hingga diwujudkan oleh kebudayaan sebelumnya.




Kamis 27 Oktober 2016 jam 14:00 Wib dimulai nya acara Festival Bantarangin yang pertama, di awali dengan kirab 5 buah buceng porak menuju monumen bantarangin sebagai pusat kegiatannya, rintik hujan turun tidak menghalangi masyarakat dan pengunjung bertahan melihat prosesi kirab, dibawah payung dan di pelataran rumah mereka berteduh sambil melihat kirab yang tidak berhenti walau turun hujan. Senyum keceriaan dan kegembiraan menghiasi saat peserta kirab melintas.


Rombongan tumpeng dan kirab mulai memasuki  monumen bantarangin, 5 buah tumpeng di tempatkan menyebar di beberapa titik, tampak seorang gadis membawa tumpeng kecil sebagai simbol diberikan ke sesepuh yang sudah berdiri di atas panggung utama, sebagai tanda dimulainya prosesi "PURAK", masyarakat tampak berebut isi tumpeng raksasa berupa buah buahan, sayuran dan hasil bumi desa tersebut.


Acara dilanjutkan malam harinya, kirab obor dimulai dari rumah kepala desa menuju monumen bantarangin, seluruh artis yang tampil berjalan beriringan dengan penerangan obor di kanan kirinya, penerangan listrik pada jalur yang dilalui kirab obor tampak dimatikan, cahaya obor terlihat lebih dramatis.


Pengisi acara seni tidak hanya dari lokal Ponorogo, nampak beberapa artis Nusantara dan luar negeri tampil bergantian di pelataran monumen bantar angin sedangkan panggung utama disediakan untuk para tamu kehormatan, hal ini di lakukan oleh panitia dengan maksud pertunjukan ini milik masyarakat dan harus dekat dengan masyarakat.





Terimakasih kepada masyarakat Sumoroto yang sudah memberikan fasilitas dan akses yang mudah pada para fotografer dan wartawan baik lokal ataupun nasional untuk mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut, panitia menyiapkan 4 (empat) menara khusus untuk mengabadikannya.

Semoga tahun depan event ini bisa lebih memunculkan budaya lokal yang mulai surut ditelan jaman. @snd 

Team liputan beku institute
|damar|sigid|daniel|imam|shandy|
#ponorogoadalahrindu #beku

Post a Comment

0 Comments